Menuai apa yang kita tulis di Internet

Assalamualaikum wr. wb…

Semakin hari saya semakin sering dengar banyak berita orang kena masalah hanya karena apa yang dia tulis di media sosial. inget ga dulu kasus Prita yang sampai dipenjara hanya karena menulis keluhannya soal rumah sakit yang ia datangi. lalu baru-baru ini kasus cewek bernama Dinda yang kena hujatan di media sosial karena marah-marah di Path saat kursinya di KRL diminta oleh ibu hamil. udah gitu kasusnya Benny Handoko tentang celotehannya di twitter soal pejabat politisi, yang membuat ia masuk penjara. lalu yang baru-baru ini paling menggemparkan adalah kasusnya Florence tentang kata-kata hinaan yang ia tulis terhadap Jogja.

Kasus yang ingin saya ulik lebih lanjut sebetulnya adalah kasusnya Florence, yang membuat ia ditahan dua hari atas laporan dari beberapa organisasi kemasyarakatan di Jogja. Flo diduga telah melanggar pasal pasal 27 (3) dan 28 (2) UU ITE tentang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/mentransmisikan dan/membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/ dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan pencemaran nama baik. Saking hebohnya kasus ini (karena melibatkan FH UGM serta Sultan Jogja), kasus Florence sampai dimuat  juga di media massa Internasional, beberapa diantaranya di Australia dan Inggris.

Banyak pihak yang menyetujui penahanan atas Flo karena kata-kata yang ia tulis dianggap sangat keterlaluan dan menyakiti perasaan warga Jogja. Akan tetapi, tidak banyak juga yang mengecam penahanan tersebut karena dianggap telah melanggar kebebasan berpendapat nya Florence yang telah diatur dalam Undang-undang, di antaranya dalam Pasal 28 ayat 2 dan 3 UUD 1945, UU No 9 tahun 1998 tentang Tata Cara Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, UU No 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, serta UU No 12 tahun 2005 tentang Ratifikasi Hak Sipil Politik. Ketika saya iseng baca-baca berita soal Flo di media massa asing, banyak yang komentar juga mengecam tindakan kepolisian Jogja dan bahkan sampai mengata-ngatai udiknya orang Indonesia yang dinilai tidak bisa terima kritik. Kata mereka, masa begini doang sampai dipenjara. Sementara itu, banyak ahli hokum dalam negeri yang komentar bahwa pasal 27-28 UU ITE itu memang bermasalah dan telah semena-mena digunakan. Benarkah seperti itu? Benarkah pasal 27-28 UU ITE tersebut telah membatasi hak kebebasan berpendapat kita? benarkah orang Indonesia itu udik tidak bisa terima kritik?

Menurut saya, sebetulnya tidak ada yang salah dengan menyampaikan pendapat kita di media sosial. Betul, kita semua memiliki hak dan kebebasan untuk berpendapat, dan ini merupakan bagian dari hak asasi manusia yang keberadaannya diakui secara internasional. Tapi yang kadang orang lupa (dan yang dulu sering ditegaskan oleh dosen Hukum Administrasi Negara saya sewaktu saya masih kuliah) adalah bahwa yang namanya hak itu tidak bisa kita tegakkan setinggi-tingginya, karena bila kita melakukan hal tersebut maka kita dengan pasti akan melanggar hak orang lain.

contohnya, misalnya saya seangkot dengan orang yang lagi merokok. tentu, hak dia untuk merokok dimana saja. tapi di saat yang sama, hak saya juga untuk menikmati udara bebas asap rokok dan naik angkot dengan nyaman. untuk itulah ada peraturan dimana ada smoking room. agar perokok dapat merokok sesuai tempatnya dan yang tidak merokok bisa menikmati udara tanpa asap rokok. kalau dilihat-lihat sebetulnya ini membatasi hak kedua belah pihak lho. hak perokok untuk merokok dimana saja menjadi dibatasi, dan hak non perokok untuk pergi kemana saja jadi berkurang (karena ada area khusus perokok yang tidak bisa ia datangi). itulah gunanya peraturan, untuk membatasi hak-hak semua orang agar tercipta ketertiban umum.

bagaimana dengan kasus warga jogja vs flo? sama dengan kasus di atas. tentu, flo boleh saja berpendapat seperti itu di akun media sosial miliknya. tapi, yang flo tampaknya lupa adalah bahwa akun media sosial, meskipun itu miliknya, adalah sebuah lahan publik. postingan yang ia tulis dengan mengedepankan haknya untuk berpendapat dapat dengan mudah menyakiti hati pihak lain. pihak yang tersakiti tentu bisa melakukan hal-hal seperti yang telah terjadi. saya pribadi, sebetulnya ketika membaca status yang ia tulis pun agak ngenes karena memang kata-katanya menurut saya kasar, jadi saya bisa membayangkan betapa kesalnya warga Jogja yang terkenal penuh kekeluargaan itu; mereka pasti merasa tersakiti kota tercinta mereka dan masyarakatnya direndahkan.

apakah dengan begitu, masyarakat Jogja menjadi masyarakat tukang marah dan ga bisa terima kritik? kita tidak bisa langsung asal berpikiran seperti itu. yang namanya budaya itu tidak ada yang salah maupun benar. kita hidup di Indonesia, negeri yang budayanya beragam dengan tata krama penuh sopan santun. kita ga bisa manggil orang yang lebih tua langsung pake nama tanpa embel2 ‘pak’ atau ‘bu’. kita ga bisa langsung nyelonong masuk rumah orang tanpa ‘assalamualaikum’. apalagi manggil kota orang dan masyarakatnya ‘bodoh’. bener ngga?

menurut saya, keberadaan pasal 27-28 UU ITE itu bukan untuk melanggar pasal 28 UUD 1945, tapi justru mendukung. pasal 27-28 UU ITE memastikan bahwa meskipun kita bebas berpendapat, tapi jangan sampai itu melanggar hak orang lain dan menyakiti hati. contohnya si A ngetweet kalo si B bodoh. kebayang kan malunya si B? teman2nya pun akan jadi mikir B bodoh. ada dampak sosial yang pelik dari pencemaran nama baik ini.

saya rasa, banyaknya kasus sejenis yang terjadi dapat membuat kita merefleksikan kepada diri sendiri, bahwa tidak selamanya kita bisa dengan enak menulis tanpa sensor di media sosial. kita orang Indonesia punya tata krama, harus sopan dan selalu menghormati perasaan orang lain. ini pun berlaku juga di dunia maya. selalu ingat bahwa sensoran di media sosial itu perlu, demi menghormati orang lain. kita tidak mau juga kan bikin sakit hati orang hanya karena tulisan kita di internet? mengkritik itu boleh tapi harus yang membangun, bukan untuk yang menjatuhkan.

mungkin banyak juga yang ga setuju dengan pendapat saya, yah ini sih hanya menurut saya. Sekian dan salam sensor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s