Pada 10 januari 2014

Assalamualaikum wr. Wb…

Sampai sekarang saya masih tidak percaya bahwa akan terjadi satu kejadian di awal tahun 2014 yang mengubah drastis kehidupan saya.
image

Semua ini berawal pada hari rabu malam, 8 januari 2014, sekitar jam 9 lewat. Ayah saya tiba2 teriak memanggil nama saya, ibu dan adik2. Setelah kami berbondong datang ke kamarnya, Ternyata beliau merasa sesak napas dan sakit leher. Kami sekeluarga sebetulnya sudah lumayan sering mendapat kejadian seperti ini, karena ayah saya sudah berulang kali keluar masuk rumah sakit akibat stroke dan penyakit darah tingginya. Biasanya kalau kambuh karena tidak minum obat, ayah saya akan kejang2 dan baikan bila setelah kejang minum obat serta istirahat. Jadi, ketika ayah saya mengeluh pusing dan sesak napas malam itu, ibu saya berinisiatif mengukur tekanan darahnya. Ternyata, tekanan darahnya normal dan beliau bahkan tidak lupa minum obat. Jadi, kami tidak tahu mengapa ia bisa sesak napas. Ketika ditanya apakah beliau mau dibawa ke rumah sakit beliau bilang “ngga ah aku ga mau diopname.”

Karena melihat kondisi ayah saya yang agak mengkhawatirkan akhirnya malam itu saya dan kedua adik saya, raffi dan haekal memutuskan untuk ‘ngungsi’ tidur di lantai kamar orang tua saya, untuk menemani ayah saya sehingga tidak kenapa2. Saya dan ibu saya lalu berjanji akan membawa ayah saya ke dokter keesokan paginya.

Kamis pagi, 9 januari 2014, saya dan ibu saya bimbang mau membawa ayah saya ke rumah sakit mana di bandung. Sebetulnya dokter ayah saya ada di Jakarta, di rumah sakit tempat beliau prnh operasi pecah pembuluh darah di kepalanya, tapi dengan pertimbangan kalau seandainya ayah saya harus opname maka akan tidak praktis kalau ayah disana dan kami sekeluarga bolak balik kesana. Akhirnya kami putuskan untuk membawanya kembali ke rumah sakit swasta A, tempat dulu ayah saya pernah dirawat. Ayah saya dulu pernah dirawat karena serangan kejangnya kambuh, dan disana beliau dikasi obat  yang seharusnya tidak boleh beredar lagi oleh salah seorang dokter syaraf seniornya. Obat itu sukses membuat kulit ayah saya mengelupas seperti terbakar dan berkontribusi menyebabkan sedikit gangguan ginjal pada beliau. Karena itu ayah saya trauma dengan rumah sakit itu. Hanya saja karena kemarin ingin kami coba rawat jalan dengan dokter yang berbeda, akhirnya kami bawa kembali kesana.

Sesampainya di rs A jam stgh 1 siang, saya dan ibu saya mendaftarkan ayah saya ke dokter syaraf kesana. Karena dokternya belum datang, dan ayah saya ingin makan eskrim, kami bertiga lalu pergi menemani ayah saya makan eskrim coklat di kantin rs. Sesudah makan eskrim ternyata dokternya masih belum datang (telat 1,5 jam dari waktu praktek seharusnya), dan ayah saya sudah semakin mengeluh sesak di dadanya, saya dan ibu saya kemudian memutuskan untuk pindah ke rumah sakit Santosa di Kebon Jati, dan membawanya langsung ke UGD bukan dokter praktek.

Di UGD rs Santosa ayah saya ditangani dengan serius, cepat dan baik. Rekam jantungnya langsung dicatat, tensi dan segala macam lsg dimonitor, dan diminumkan obat. Dokter jaganya juga lsg mendatangkan dokter spesialis jantung nomor 1 di sana, dan dokternya lsg berdiskusi dengan ibu saya mengenai riwayat penyakit ayah saya, Serta penanganan terbaik yang pas untuk ayah saya.

image
Saat di UGD

Ternyata ayah saya kemungkinan bermasalah di Jantungnya, dan karena harus diobservasi dulu untuk tahu lebih jelas penyakitnya, dokter memutuskan ayah saya tidak bisa dirawat inap di ruang ranap biasa melainkan di CVCU, semacam ICU khusus untuk penyakit jantung.
Syukurnya, setelah diminumkan obat anjuran dokter, ayah saya merasa baikan dan bisa istirahat di ruang cvcu. Saya kemudian pergi ngajar, gantian dengan adik saya Iqbal yang baru datang dari Depok untuk menemani ibu saya di rumah sakit.

Keesokan harinya, tanggal 10 januari 2014, saya berangkat agak siang ke rumah sakit setelah beres2 rumah. Di rumah sakit di CVCU, saya ngobrol dengan ayah dan ibu saya. beliau sempat makan salak yang saya bawakan, tapi ketika ditawarkan bubur sumsum yg disediakan rumah sakit, beliau menolak. Beliau kembali mengeluh sakit dada dan sesak napas, tapi kami menganggap itu reaksi normal akibat penyakit beliau. Sekitar jam stgh 2, saya dan ibu saya pamit untuk sholat zuhur, dan saya akan ngajar di nf sumbawa.

Setelah sholat saya dan ibu saya dapat kabar kalau ayah saya kejang2, jadi ibu saya kembali ke CVCU sementara saya berangkat ke tempat ngajar, karena sy berpikir setelah kejang ayah saya akan kembali normal seperti biasanya.

Saat di angkot, saya ditelpon oleh ibu saya, disuruh kembali langsung ke rumah sakit karena ayah saya kritis. Alhamdulillah saya belum terlalu jauh dari rumah sakit jadi saya bisa segera turun dan naik angkot putar arah kembali ke rs sambil mengabari nf sumbawa kalau saya tidak bisa ngajar hari ini. Saya bener2 lemas pada saat itu, karena saya betul2 ngga menyangka kejang ayah saya akan fatal jadinya.

Setelah sekitar 20 menit penuh kemacetan kembali ke rs, saya berhasil sampai kembali di rs dan lari2 ke ruang CVCU. Disana saya melihat ibu saya di pojok menangis, dan tempat tidur ayah saya dikerubungi 10 suster dan dokter jantungnya, sambil sibuk memompa jantung ayah saya. Saya melihat monitor jantung ayah saya sambil berusaha menenangkan ibu saya. “Papa kuat kok ma.” Kata saya, mencoba menenangkan ibu saya padahal sebetulnya menenangkan diri sendiri.

5 menit yang panjang kemudian, dokter memanggil ibu saya.
“Bu, tolong bapaknya dibimbing.” Sambil menangis ibu saya lalu membacakan taklim berulang ulang di telinga ayah saya “laailahaillalloh…”.

Saat itu, saya memperhatikan ayah saya dan air mata saya mulai keluar. Ketika dokter berkata “bu, bapak udah ga ada. Direlakan ya..” ibu saya menangis semakin keras, dan saya juga. Saya belum percaya sampai ketika saya melihat monitor jantung ayah saya dan garisnya tidak lagi bergelombang melainkan garis lurus tanpa denyut. Detik itu saya akhirnya merasa bahwa benar, saya telah kehilangan salah satu orang paling berharga dalam hidup saya. Saat itu saya hanya bisa menatap kepada jenazah ayah saya yang telah terbujur kaku sambil menangis meminta maaf. “Maafin kakak, pa.. maafin kakak..”

Sejak ayah saya meninggal sampai sekarang, alhamdulillah keluarga saya mendapatkan banyak sekali bantuan dan dukungan, baik secara lahir maupun batin. Saya terkejut ketika melihat banyak sekali orang yang datang melayat ke rumah, baik orang kantor papa maupun keluarga dekat yang datang langsung dari jember, medan, batam dan jakarta. Tetangga2 sekitar juga sangat perhatian dan tak henti membantu memberikan bantuan pada kami. Tak ketinggalan teman2 mama, saya, iqbal, raffi dan haekal yang juga datang untuk menemani kami.
Melihat begitu banyak teman2 saya datang, bahkan sampai pada menemani ke pemakaman seperti Ina, Gina, Ayu, Mutia dan Erika membuat saya sangat terharu. Belum lagi teman2 yg menemani malam hari sebelum pemakaman dan yg memberikan ucapan bela sungkawa. Keadaan ramai ini membuat kesedihan keluarga saya terobati.

Sampai sekarang sebetulnya saya kadang masih tidak percaya kalau ayah saya sebenarnya sudah tidak ada. Bila malam sebelum tidur teringat ayah saya, saya suka menangis sendiri karena teringat betapa banyaknya kesalahan saya padanya, dan betapa banyaknya hal yang masih bisa saya lakukan bersamanya. Saya telah merelakan beliau diambil oleh Alloh Yang Maha Kuasa, saya ikhlas dan tahu ini yang terbaik bagi semuanya, cuma saya suka merasa menyesal sendiri ketika menyadari dulu saat beliau masih ada saya kurang memberi perhatian padanya.

Saat ditinggal ayah saya kemarin, memandikan, mengafani, mensholati dan menguburkannya betul2 menyadarkan saya bahwa tidak ada yang lebih dekat di dunia ini selain ajal. Saya tidak pernah merasa sedekat ini dengan kematian sebelumnya. Dengan keadaan ayah saya, saya merasa diingatkan sendiri bahwa semua manusia akan kembali kepadaNya dan tidak ada yang dibawa meninggal selain amal ibadah kita.

Ditinggalkan oleh ayah saya juga membuat saya menyadari posisi saya sekarang. Sebagai anak pertama dari 4 bersaudara, sayalah kini yang memegang tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga, menggantikan posisi ayah saya. Beberapa saat sebelum meninggal, ayah saya pernah berpesan pada saya dan iqbal untuk memastikan kehidupan dan pendidikan adik2 saya yang masih sekolah, raffi kelas 1 sma dan haekal kelas 5 sd agar mereka berdua selamat dan terjamin pendidikannya. Alhamdulillah, saya dan iqbal sudah memasuki semester akhir kuliah kami. Insya Alloh tidak lama lagi kami lulus dan bisa membantu kehidupan keluarga kami.

Sekarang saya sudah merasa lebih baik, meski kadang saya masih suka nangis sendiri sebelum tidur. Kadang saya masih tidak percaya, dan suka terkenang sendiri bila melihat barang atau makanan kesukaan papa. Saya sedih ketika ayah saya meninggal, tapi saya bertekad akan menjadi kuat demi ibu dan adik2 saya. Saya percaya cobaan ini akan bisa terlewati, karena Alloh menjamin bahwa selalu ada kemudahan dalam setiap kesulitan. Meskipun berat, saya percaya ini yang terbaik untuk ayah saya dan juga untuk keluarga saya. Sebagai anak saya akan berusaha menjadi anak soleh agar doa saya untuk papa bisa sampai kepada Alloh.

Selamat jalan, Papa. Semoga papa mendapatkan tempat terbaik di sisi Alloh.. amin..

image
Foto terakhir papa, sejam sebelum meninggal.

8 thoughts on “Pada 10 januari 2014

  1. innalillahi wa inna lillahi rojiun, Farah aku turut berduka, maafkan aku tidak bisa datang maafkan aku…terima kasih tulisanmu pun mengingatkanku untuk lebih perhatian dengan orangtua ku, yg kadang aku suka bandel dan kurang perhatian. Aku tau sekali kamu seseorang yang sangat kuat, semoga amal ibadah dan segala kebaikan ayahmu diterima oleh Alloh swt dan kamu dan keluarga selalu diberikan kemudahan dan kelancaran mencapai kesuksesan untuk menjalankan hidup selanjutnya amiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s