Analisis kasus privasi naomi campbell

Assalamualaikum wr. wb..

berikut adalah analisis kasus privasi supermodel Inggris Naomi Campbell.

semoga membantu Smile

 

A. Fakta Hukum

● Februari 2001, The Daily Mirror mempublikasikan foto – foto Supermodel Inggris, Naomi Campbell, saat ia meninggalkan pertemuan konseling ketergantungan obat-obatan (Narcotics Anonymous) di King’s Road, Chelsea. Selain itu, harian ini juga memuat berita tentang perawatan Campbell dari obat-obatan secara detil dan terperinci.

● Campbell kemudian menggugat The Daily Mirror ke High Court di Inggris atas tuduhan bahwa foto – foto serta artikel yang dimuat oleh The Daily Mirror pada tahun 2001 merupakan pelanggaran privasi, kepercayaan, dan pelanggaran Data Protection Act. Campbell beralasan ia harus menggugat The Daily Mirror karena ia memiliki hak privasi dan dia seharusnya dapat menerima terapi atas kecanduan narkoba tersebut tanpa gangguan media.

· Inggris tidak mengatur mengenai privasi, tapi pengacara Campbell beralasan bahwa pelanggaran privasi yang diajukan oleh Campbell merupakan bagian dari hukum kepercayaan, yang adalah perpanjangan dari pasal 8 Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia. Ini menjadi bagian dari hukum Inggris ketika Human Rights Act mulai berlaku pada Oktober 2000.

·  Maret 2002, Hakim High Court, Justice Morland memenangkan gugatan Campbell dan menghukum The Daily Mirror untuk membayar 3500 poundsterling pada Campbell, atas dasar bahwa, sebenarnya sah bagi The Daily Mirror untuk mengekspos Campbell sebagai seorang pecandu narkoba karena sebelumnya ia telah berbohong dengan mengatakan bahwa ia bukan pengguna narkoba, dan merupakan bagian dari jurnalisme untuk mengungkapkan fakta mengenai itu. Tapi The Daily Mirror terhitung melanggar privasi Campbell saat media tersebut memuat rincian pengobatan yang diterima oleh Campbell dan kemudian mempublikasikannya. Hakim memutuskan hal ini berdasarkan bab mengenai pelanggaran kerahasiaan dan pelanggaran kewajiban dibawah Data Protection Act 1998.

· Meski putusan tersebut terbilang kontroversial, putusan itu gagal menciptakan sebuah hukum baru mengenai privasi, dan menegaskan bahwa selebriti harus bergantung pada hukum mengenai kerahasiaan yang telah ada, serta Human Rights Act.

· Atas putusan ini, The Daily Mirror kemudian mengajukan banding kepada Appeal Court di Inggris.

· Oktober 2002, Appeal Court kemudian membalikkan putusan High Court dengan memenangkan The Daily Mirror karena meski Human Rights Act memuat hak mengenai kehormatan pada keluarga dan kehidupan pribadi, hal ini harus diseimbangi dengan kebebasan berekspresi yang dimiliki oleh Media. Campbell sebelumnya telah berbohong pada publik bahwa ia kecanduan obat – obatan, sehingga media harus membuktikan kebenaran ucapannya dan memuat artikel tersebut. Atas kebohongan itu, Campbell berkomentar bahwa ia hanya ingin menyimpan rahasia mengenai masalah yang ia hadapi dan pengobatan yang ia jalani.

· Atas putusan ini Appeal Court memerintahkan Campbell untuk membayar ganti rugi biaya penasihat hukum harian ini sebesar 350.000 poundsterling.

● Campbell lalu meminta kepada panel The Law Lords yang menduduki bagian atas parlemen Inggris untuk membalikkan keputusan Oktober 2002 bahwa The Daily Mirror telah membenarkan pemuatan foto sang supermodel meninggalkan pertemuan grup NA (Narcotics Anonymous).

● Mei 2004, tiga dari lima hakim di Law Lords berpihak pada Campbell.

● Law Lords kemudian membalikkan putusan Appeal Court dan menghukum The Daily Mirror untuk membayar ganti rugi pada Campbell sebesar 1,1 juta poundsterling termasuk biaya success fee sebesar 280.000 pundsterling.

● Perusahaan yang membawahi The Daily Mirror, MGN, kemudian mengajukan keberatan atas success fee tersebut karena nilainya dianggap terlalu tinggi dan melanggar kebebasan berekspresi media.

● Banding dibubarkan pada 2005 karena hakim berpendapat bahwa success fee adalah sebuah bagian yang penting dari CFA.

● MGN lalu mengajukan banding ke European Court of Human Rights, beralasan bahwa harian The Daily Mirror tidak melanggar privasi Campbell dan kebebasan berekspresi media telah dilanggar oleh success fee.

Sumber: news.bbc.co.uk, guardian.co.uk, stinkyjournalism.org

B. Permasalahan Hukum

1. apabila media memuat mengenai kehidupan seorang artis yang sedang mengikuti terapi, apakah itu melanggar privasi atau tidak?

2. bagaimanakah privasi bagi seorang public figure yang hidupnya memang diekspos dan diketahui publik?

3. Apakah permasalahan privasi tersangkut paut dengan Hak asasi manusia?

C. Keputusan Pengadilan

· High Court

Campbell memenangkan gugatan dan The Daily Mirror harus membayar ganti rugi sebesar 3.500 poundsterling.

· Appeal Court

Hakim membalikkan putusan High Court, memenangkan banding The Daily Mirror dan Campbell harus membayar ganti rugi sebesar 350.000 poundsterling.

· Law Lords

Tiga dari lima hakim berpihak pada Campbell. Law Lords kemudian membalikkan putusan Appeal Court dan menghukum The Daily Mirror untuk membayar 3500 pundsterling.

· European Court of Human Rights

Hakim memutuskan bahwa The Daily Mirror telah melanggar privasi Campbell, tapi tidak harus membayar success fee, karena sebenarnya pembayaran success fee diperuntukkan hanya pada orang – orang yang tidak mampu membayar biaya penasihat hukum mereka selama di pengadilan. The Daily Mirror tetap harus membayar ganti rugi kepada Campbell sesuai keputusan Law Lords, tapi jumlahnya tidak sebesar itu.

D. Pertimbangan Hakim

Pada Law Lords, berikut adalah argumen ketiga hakim yang setuju pada Campbell dan menjadi alasan penyelesaian kasus ini;

1. Lord Hope

“Meskipun media harus diberikan hak atas kebebasan berekspresi karena memang diperlukan agar media dapat memerankan perannya secara efektif, tapi disini telah terjadi sebuah pelanggaran atas hak privasi Campbell. Artikel dan foto tersebut dapat dikategorikan sebagai gangguan terhadap hak Campbell untuk mendapat kehormatan atas kehidupan pribadinya.”

2. Baroness Hale

“Orang yang mencoba untuk pulih dari kecanduan narkoba perlu dedikasi dan komitmen yang cukup besar, bersama dengan dukungan teguh dari orang di sekitar mereka. Itu sebabnya organisasi seperti Narcotics Anonymous dibentuk. Gangguan pada orang tersebut di saat dia berada pada tahap yang rapuh dapat menyebabkan akibat yang merusak.”

3. Lord Carswell

Ia berpendapat bahwa penerbitan artikel dan foto itu telah melampaui apa yang seharusnya dimuat; bahwa Campbell sedang dalam terapi (dimana Campbell tidak keberatan diberitakan seperti itu), dan memuat hal – hal mengenai perawatan medis yang diterima Campbell. Hal ini dapat mencegah Campbell untuk melanjutkan pengobatan dan menghalangi orang lain untuk mengikuti pengobatan yang sama.

E. Analisis

Apabila media memuat mengenai kehidupan seorang artis yang sedang mengikuti terapi, apakah itu melanggar privasi atau tidak?

Privasi merupakan hak dasar manusia yang harus dihormati. Dalam kasus ini penyusun setuju dengan ketiga hakim Law Lords bahwa Campbell berhak menerima terapi atau pengobatan tanpa gangguan sorotan media yang sekiranya dapat menimbulkan guncangan mental. Dan apa yang telah dilakukan oleh The Daily Mirror merupakan sebuah pelanggaran privasi yang tidak dapat dibiarkan.

Pengadilan sebagai tempat masyarakat pencari keadilan dapat menjadi penyeimbang kebebasan berekspresi media dengan hak privasi individu. Campbell memang merupakan seorang public figure, dan sebelumnya ia telah berbohong mengenai perawatan yang ia terima, tapi bukan berarti ia tidak lagi punya privasi atas beberapa hal dalam hidupnya, termasuk pengobatan yang sedang ia jalani. Ia berhak merahasiakan dan mengatakan apapun yang dia inginkan untuk menutupi kenyataan karena Campbell ingin menjalani pengobatannya dengan serius tanpa gangguan. Sebagai pasien, rincian perawatan yang diterima olehnya memang seharusnya rahasia dan dilindungi. Jika ada kemungkinan sedikit pun bahwa perlindungan kerahasiaan akan dihapus di kemudian hari itu maka ini akan merusak semua jenis terapi, dan tentu akan berakibat fatal pada kondisinya. Meskipun dalam hal ini media memiliki kepentingan untuk memberitakan kepada masyarakat tentang Campbell, tapi media seharusnya tidak memberitakan rincian yang termasuk ke dalam kerahasiaan seseorang.

Bagaimanakah perlindungan privasi bagi seorang public figure?

Meskipun penjajahan hak privasi merupakan salah satu resiko menjadi public figure, ini bukan berarti para public figure tidak lagi dapat melindungi hak privasinya. Ini menurut Komisi Penyiaran Indonesia, yang dapat dijadikan perbandingan dalam kasus ini. KPI menyebutkan bahwa meski para selebritas merupakan public figure, mereka bukanlah pejabat publik yang hidup dengan memanfaatkan anggaran dan fasilitas yang disediakan negara. Karena itu, para selebritas pada dasarnya adalah warga negara biasa yang berhak mendapat perlindungan penuh atas privasinya, sepanjang penggunaan hak privasi mereka tidak merugikan kepentingan umum (anti-sosial).

Sebagai public figure, para selebritas memang merupakan subjek yang memiliki nilai untuk diberitakan (prominence). Karena itu pula media-media mainstream pun biasanya memiliki rubrik atau segmen berita seputar para tokoh, termasuk para pesohor. Tapi, aspek kehidupan para selebritas yang layak dijadikan bahan liputan hanyalah seputar interaksi sosial, yakni bagaimana para selebritas berinteraksi dengan masyarakat disekelilingnya, bukan urusan ‘kasur’, ‘dapur’ atau urusan pribadi lainnya. Kisah tentang perjuangan selebritas menggapai sukses atau melewati masa sulit dalam karirnya, kisah kedermawanan mereka, atau kisah tentang kepedulian mereka atas nasib orang banyak secara  jurnalistik layak diberitakan —sepanjang pemberitaan  atas hal tersebut mendapat persetujuan mereka dan sesuai Kode Etik Jurnalistik.

Bagaimanapun faktanya, selebriti tetaplah pemilik informasi tersebut dan memiliki hak penuh ke atasnya. Dan tatkala informasi mengenai seseorang sampai di ruang publik seiring dengan ketidaknyamanan sang pemilik informasi, maka hal tersebut sesungguhnya telah melanggar hak privasi seseorang.

Seperti yang kita ketahui, media dan selebriti saling membutuhkan. Media membutuhkan informasi-informasi kegiatan selebriti sebagai public figure untuk bahan tayangan, sebaliknya selebriti membutuhkan media untuk mendongkrak popularitas mereka. Namun yang terjadi belakangan justru benturan-benturan yang disebabkan keengganan narasumber untuk dimintai informasinya, seperti keengganan Campbell saat ditanyai mengenai terapi yang ia ikuti. Harusnya antara pekerja media dan selebriti ada budaya saling memahami hak masing-masing sehingga tidak perlu lagi ada benturan-benturan yang merugikan salah satu pihak. Sehingga media mengerti informasi mana yang tidak disukai pemiliknya untuk diminta apalagi sampai memaksa.

Apakah permasalahan privasi tersangkut paut dengan Hak asasi manusia?

Dalam hukum Inggris memang tidak ada penyebutan secara jelas, tapi dari putusan hakim dapat dilihat bahwa privasi memang berhubungan dengan hak asasi manusia, yaitu law of confidentiality (hukum kepercayaan) yang dimuat dalam pasal 8 konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia.

Sementara itu, privasi sebagai salah satu bagian hak asasi manusia juga ditekankan dalam International Covenant on Civil and Political Rights yakni dalam article 17. privasi adalah salah satu hak yang bersifat derogable artinya dapat dikurangi atau dibatasi dalam pemenuhannya oleh negara dalam keadaan tertentu.

Hal ini berarti apa yang dilakukan oleh The Daily Mirror merupakan sebuah pelanggaran hak asasi manusia terhadap Naomi Campbell.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s