hak kekayaan intelektual: SDGPTEBT

Assalamualaikum wr. wb…

tugas hukum hak kekayaan intelektual tentang Sumber Daya Genetik, Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional.

semoga bermanfaat 🙂

  1. Mengapa negara – negara berkembang ingin melindungi SDGPTEBT dikaitkan dengan rezim HKI?

Banyak negara berkembang ingin melindungi SDGPTEBT dikaitkan dengan rezim HKI karena beberapa alasan[1], yaitu;

    1. alasan pertama, negara berkembang yang memiliki potensi sumber daya hayati dan pengetahuan tradisional terkait, ternyata belum menikmati secara ekonomi atas hasil dari pemanfaatan sumber daya tersebut. yang banyak memanfaatkan keragaman hayati dan pengetahuan tradisional negara berkembang justru adalah negara – negara maju.
    2. Alasan kedua, karena adanya ketidakadilan dalam sistem perdagangan internasional. Negara – negara maju menerapkan standar ganda dalam soal perlindungan hak – hak individual warganya, dan tidak mengakui hak masyarakat di negara – negara berkembang atas kreasi intelektual mereka berupa pengetahuan tradisional.
    3. Alasan ketiga, karena keberadaan berbagai kesepakatan internasional biasanya hanya berpihak pada negara maju, tidak pada negara berkembang, sehingga banyak kesepakatan tidak membantu upaya melindungi hak dan kepentingan masyarakat lokal.
    4. Alasan terakhir, negara – negara berkembang merasa perlu memiliki perlindungan bagi hak masyarakat lokal berkenaan dengan pengetahuan tradisional mereka karena masyarakat sendiri tidak menyadari bahwa pengetahuan tradisional memiliki nilai ekonomis. Masyarakat sebagai pemilik dari pengetahuan tersebut sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melindungi pengetahuan mereka. Kondisi ini membuat misappropriation sangat rentan dilakukan oleh pihak asing. Misappropriation adalah penggunaan oleh pihak asing dengan mengabaikan hak – hak masyarakat lokal atas pengetahuan tradisional dan sumber daya hayati yang terkait, yang menjadi milik masyarakat yang bersangkutan.

Mencuatnya beberapa kasus mengenai sumber daya genetik, pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya seperti kasus Basmati Rice, Kosmetik Shiseido dan miniatur perak Borobudur telah menimbulkan kesadaran masyarakat bahwa SDGPTEBT memiliki nilai ekonomi yang besar, sehingga membuat masyarakat tradisional mulai mendesak WIPO untuk memfasilitasi perlindungan SDGPTEBT.

2. Apa yang dimaksud dengan Sumber Daya Genetik?

Secara teoritis, Paleroni (1994) mendefinisikan SDG sebagai kandungan kimia benilai, enzim, atau gen yang potensial yang terdapat dalam mikroba, tanaman, serangga, hewan mematikan dan organisme laut. sementara Putterman mendefinisikan SDG sebagai deskripsi tentang keanekaragaman hayati yang terdiri dari berbagai informasi genetik dan terbentuk dalam senyawa kimia dalam spesies secara alamiah.

Kameri-Mbote (1997) mengartikan SDG yang merupakan basis kehidupan fundamental di dunia ini, sebagai pembentuk basis fisik hereditas dan menyediakan keanekaragaman genetik yang berarti jumlah variasi genetik yang ada pada suatu populasi atau spesies SDG terdiri dari plasma nutfah tanaman, hewan, dan organisme lainnya.

Secara konsensus formal, definisi SDG bisa merujuk pada Convention in Biological Diversity (CBD) yang telah ditandatangani dan diratifikasi Indonesia dengan UU No. 5 tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatanan Bangsa – Bangsa Mengenai Keanekaragaman Hayati. Pasal 2 undang – undang dimaksud menetapkan bahwa yang dimaksud dengan SDG adalah bahan genetik yang memiliki nilai guna, baik secara nyata maupun yang masih berpotensi (genetic material of actual or potential value). Selanjutnya, bahan genetik dijelaskan sebagai unit fungsional hereditas yang terdapat dalam tumbuhan, hewan, atau mikrobiologi.

Intinya, SDG merupakan karakter tumbuhan atau hewan yang dapat diwariskan, dapat bermanfaat atau berpotensi untuk dimanfaatkan oleh manusia, yang mengandung kualitas yang dapat memberikan nilai atas komponen keragaman hayati seperti nilai ekologi, genetik, sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, pendidikan, budaya, rekreasi dan estetika keanekaragaman hayati tersebut dan komponennya. SDG berarti tumbuhan, hewan, atau mikrobiologi yang memiliki unit fungsional hereditas yang bernilai, baik itu secara aktual maupun potensial. Nilai SDG bersifat multidimensi, baik itu nilai ekologi, sosial budaya, maupun ekonomi.[2]

3. Apa yang dimaksud dengan Pengetahuan Tradisional?

Pengetahuan Tradisional diartikan sebagai pengetahuan yang dimiliki atau dikuasai dan digunakan oleh suatu komunitas, masyarakat, atau suku bangsa tertentu yang bersifat turun – temurun dan terus berkembang sesuai dengan perubahan lingkungan.[3]

WIPO mendefinisikan traditional knowledge sebagai muatan atau substansi pengetahuan yang berasal dari kegiatan intelektual dalam konteks tradisional, dan termasuk kecakapan teknis, ketrampilan, inovasi, praktik – praktik dan pembelajaran yang membentuk bagian dari sistem pengetahuan tradisional, dan pengetahuan yang terdapat dalam gaya hidup tradisional berbagai komunitas lokal dan asli pribumi, atau pengetahuan yang terdapat dalam sistem pengetahuan yang terkodifikasi yang diwariskan antar generasi.[4]

Pengetahuan tradisional itu terbagi dua, satu yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati, yaitu yang menyangkut traditional know-how, traditional medicine, traditional agriculture practices, dan traditional planting materials. Satunya lagi berkaitan dengan seni seperti tarian rakyat, atau cerita rakyat.

Menurut temuan Fact Finding Mission –WIPO, maka pengertian pengetahuan tradisional meliputi pengertian yang sangat luas, tidak hanya terbatas pada pengetahuan di lapangan teknologi atau seni saja, tetapi juga mencakup sistem pengetahuan dalam bidang obat – obatan dan penyembuhan, pelestarian, keakegaraman hayati, lingkungan, makanan, dan pertanian, juga musik, tari – tarian dan ‘artisanat’ (yaitu desain, tekstil, seni plastik, kerajinan tangan, dan lain – lain).

4. Apa yang dimaksud dengan Ekspresi Budaya Tradisional?

Ada beberapa istilah lain yang merujuk kepada Ekspresi Budaya Tradisional, yaitu expression of folklore, dan folklore. Ketiga istilah di atas merujuk pada produk, aliran sosial serta proses kreatif kommunal intergenerasi yang menggambarkan dan mengidentifikasikan sejarah, budaya dan identitas sosial serta nilai dari komunitas tersebut. dengan demikian ekspresi budaya tradisional merupakan bagian dari warisan dan identitas budaya, yang perlindungan serta pelestariannya terkait dengan pengakuan terhadap keragaman budaya dan kreatifitas manusia.[5]

Budaya tradisional sebagai bagian dari pengetahuan tradisional adalah ekspresi yang mencakup 4 kelompok yaitu: ‘expression by words (verbal), expression by musical sounds (music), expression of the human body (by action), and expressions incorporated in a material object (tangible expression).

  1. langkah – langkah apa yang dilakukan WIPO dalam perlindungan HKI dan SDGPTEBT?

Pada tahun 1999 WIPO mengadakan Roundtable on Intellectual Property and Traditional Knowledge. Saat itu negara berkembang menuntut untuk dibentuk badan khusus yang membahas topik ini, kemudian berdirilah The Intergovernmental Comittee on Intellectual Property and Genetic Resources, Traditional Knowledge and Folklore. Sidang pertama mereka dilakukan pada bulan Mei 2001. salah satu rekomendasi yang dihasilkan dalam sidang tersebut adalah dibentuknya Fact Finding Mission (FFM) mengenai HKI dan pengetahuan tradisional.

FFM ini dikirim ke berbagai negara yang bertujuan untuk mengumpulkan fakta dan juga harapan atau aspirasi dari masyarakat. Hasil dari FFM ini sangat penting bagi WIPO untuk mengidentifikasi intellectual property needs and expectations of traditional knowledge holders and for future possibilities for the protection of IP rights of holders of traditional knowledge. Kesimpulan dari FFM[6] ini adalah;

  1. pengetahuan tradisional, sudah banyak dikenal dan banyak di antaranya terkait dengan sistem kepercayaan.
  2. pengetahuan tradisional, biasanya dimiliki secara kolektif sebagai suatu cerminan dari nilai – nilai budaya dan biasanya digunakan sebagai bagian dari tradisi suatu komunitas.
  3. pengetahuan tradisional tidak selalu berarti sesuatu yang kuno atau statis, melainkan sesuatu yang dinamis dan berkembang.
  4. perlindungan bagi pengetahuan tradisional juga penting untuk melindungi kehormatan individu dan komunitas (individual and community dignity and respect).
  5. pengetahuan tradisional penting sebagai sumber pendapatan, makanan dan kesehatan bagi banyak orang, terutama masyarakat di negara berkembang, juga penting secara sosial dan budaya. selain itu pengetahuan tradisional bisa memainkan peran dalam ekonomi dan sosial dari suatu negara, dan memperkenalkan nilai – nilai dari pengetahuan yang demikian itu bisa menjadi alat untuk mempromosikan rasa kesatuan dan identitas nasional.
  6. sistem HKI dapat memberikan perlindungan bagi pengetahuan tradisional yang memang memungkinkan untuk dilindungi dengan rezim HKI (seperti paten, merek, hak cipta, dan desain industri).

Berdasarkan hasil temuan WIPO dalam FFM, dapat disimpulkan bahwa sepanjang menyangkut sumber daya genetika, pengetahuan tradisional dan ekspresi folklore, ada dua kemungkinan: dapat dilindungi oleh HKI dan yang tidak dapat dilindungi oleh HKI. Perlindungan melalui HKI didasarkan pada karakter sumber daya genetika, pengetahuan tradisional dan ekspresi folklore tersebut dikaitkan dengan syarat yang ditentukan oleh masing – masing rezim HKI yang memungkinkan perlindungannya. Bentuk perlindungan yang paling memungkinkan atas sumber daya genetika, pengetahuan tradisional dan ekspresi folklore melalui HKI adalah Paten, Hak Cipta, Merek termasuk Indikasi Geografis, Perlindungan Varietas Tanaman, Rahasia Dagang, dan Desain Industri.

Intergovernmental Comittee on Intellectual Property and Genetic Resource, Traditional Knowledge and Folklore yang dibentuk oleh WIPO memiliki tugas utama untuk memanfaatkan semaksimal mungkin sistem hak kekayaan intelektual yang ada untuk melindungi pengetahuan tradisional, sumber daya genetika dan folklore.[7]

Saat ini the Intergovernmental Committee on Genetic Resources, Traditional Knowledge and Folklore melakukan langkah – langkah terhadap SDGPTEBT dengan dua cara yaitu defensif dan positif. Perlindungan secara defensif berarti pemanfaatan sistem HKI untuk perlindungan SDGPTEBT, sedangkan perlindungan positif berarti pembentukan sistem perlindungan yang utuh menyeluruh (sui generis).

6. Upaya apa yang dilakukan Indonesia dalam perlindungan HKI dan SDGPTEBT?

dalam upaya melindungi HKI khususnya SDGPTEBT Indonesia melakukan beberapa tindakan, diantaranya;

:A. Ikut menjadi negara yang mendesak WIPO untuk membuat kebijakan soal SDGPTEBT.

B. Mengeluarkan Peraturan perundang – undangan yang berkaitan dengan SDG. Di Indonesia, sekitar 28 undang – undang berhubungan dengan SDG meliputi berbagai sektor. Rujukan utama pengaturan SDG Indonesia, tentu saja konstitusi negara. SDG dalam perspektif UUD 1945 adalah sarana untuk mensejahterakan masyarakat menjadi modal bangsa dan keunggulan komparatif sekaligus kompetitif untuk dikelola dengan sebaik – baiknya demi mencapai kesejahteraan bersama.

C. Beberapa perundangan HKI Indonesia juga telah memfasilitasi peraturan mengenai pengetahuan tradisional, yaitu;

  1. Pasal 49-51 UU Hak Cipta th 2002 memberi hak ekslusif bagi para pelaku untuk memberikan hak eksklusif bagi para pelaku untuk memberi izin atau melarang pembuatan rekaman pertunjukan mereka, serta reproduksi, distribusi dan penyiaran rekaman tersebut. Dalam praktiknya, hak ini merupakan hak yang utamanya telah dijalankan oleh para musisi populer. Namun hak ini juga secara setara dimiliki oleh para individu dan kelompok yang melakonkan musik, tari, drama atau ritual lama. Dalam kasus rekaman yang dilakukan tanpa izin, para pelakon Indonesia dapat, setidaknya dalam teori, menegakkan hak – hak terkait mereka terhadap para pengguna asing di kebanyakan bagian dunia ini.
  2. Pada tahun 2007, pemerintah Indonesia melakukan langkah penting untuk mengeksplorasi pendekatan ini, dengan memperkenalkan adanya merek batik lewat keputusan menteri perindustrian No. 74/MIND/PER/9/2007. Dengan adanya keputusan menteri ini, hanya pengusaha batik yang telah menjual produk mereka dengan merek yang telah terdaftar yang bisa mendapat sertifikat merek batik. Inovasi ini, adalah jenis perlindungan pengetahuan tradisional yang masuk ke dalam perlindungan hak merek.
  3. Dalam UU Hak Cipta tahun 2002 pada pasal 12, daftar ciptaan yang dilindungi mencakup berbagai macam produksi yang muncul dalam area kesenian tradisional.

[1] Agus Sardjono, Hak Kekayaan Intelektual dan Pengetahuan Tradisional, Alumni, Bandung, 2010, hlm. 3 – 5

[2] Efridani Lubis, Perlindungan dan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik Berdasarkan Penerapan Konsep Sovereign Right dan Hak Kekayaan Intelektual, Alumni, Bandung, 2009, hlm. 44.

[3] Agus Sardjono, Op.cit., hlm. 1

[4] Ibid, hlm. 439

[5] Krisnani Setyowati dkk, Hak Kekayaan Intelektual dan Tantangan Implementasinya di Perguruan Tinggi, Kantor HKI-IPB, Bogor, 2005, Hlm. 179.

[6] Agus Sardjono, Op.cit., hlm. 18

[7] Krisnani Setyowati, dkk, Op.cit.,hlm. 205

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s