Naskah Drama jaman SMA

Assalamualaikum wr. wb…

jadi malam (tepatnya pagi buta) ini, saat saya sedang iseng – iseng membuka – buka file lama di laptop, saya menemukan sebuah file berisikan naskah drama bahasa indonesia jaman kelas 2 smp yang kemudian saya gunakan lagi saat kelas 1 sma. naskah ini tentang perampokan bank gitu. kocak bangetlah kalo dibaca lagi, karena garingnya itu loh. kebayang kan waktu dipentasin? bahahahaha. di drama ini saya jadi jeng teti, seorang ibu – ibu sok kaya. akting saya dipuji loh, mungkin saya emang berbakat jadi ibu – ibu. haha

Perampokan di bank

Narator : “Di suatu hari yang cerah, tampak dua orang ibu – ibu sedang berjalan sambil mengobrol.”

(Adegan pertama)

Teti : “Aduh yah, Jeng Mila, sekarang harga – harga pada naik loh!”

Mila : “Ya ampunnn, Jeng Teti, itu sih bukan rahasia umum lagi. Saya tahu kok, harga – harga pada naik! Listrik lah, air lah, telepon lah, sembako lah, semuaaa naik! Emangnya harga barang apa sih, yang bikin Jeng Teti gelisah?”

Teti : “Itu loh Jeng, harga kalung berlian itu! Naik loh, dari 5 juta, sekarang jadi 10 juta! Ya ampun, pusing saya! Kalau harga kalung berlian jadi naik, saya jadi susah kan mau beli!”

Mila : “Ya ampun Jeng Teti, bukannya kalung Jeng Teti itu banyak? Kenapa mesti beli lagi sih?”

Teti : “Jeng Mila, tolong yah! Kalung – kalung saya yang lama itu sudah nggak matching! Sudah bukan jamannya lagi, gitu loh! Jadi yah, saya harus selalu up to date, agar saya nggak ketinggalan jaman!”

Mila : “Ya sudah deh, terserah Jeng Teti aja. Sekarang kita mau kemana, nih?”

Teti : “Kita ke bank aja yuk, Jeng! Udah lama nih, saya nggak ke bank! meskipun kaya – kaya begini, saya kan juga perlu menabung ke bank!”

Mila : “Oke deh, saya anterin!”

(Adegan Kedua)

Narator : “Kedua Ibu – ibu tersebut lalu pergi ke bank. Mereka lalu menuju teller.”

Teller : “Iya, ibu, selamat datang di bank PASTIKAYA. Ada yang bisa saya bantu?”

Teti : “Saya mau menyimpan uang, Mbak. Rekening nomor 123456789 atas nama Teti Lailasari.”

Teller : “Sebentar ya, Bu, saya cek dulu. Nah, sudah ketemu. Silahkan, Ibu, berapa jumlah uang yang akan ditabung?”

Teti : “Berapa ya? Hmmm, 10 juta saja deh. Ini uangnya!”

Teller : “Baik. Tunggu sebentar, Ibu Teti.”

Mila : “Eh iya, Jeng! Saya baru ingat! Dilihat – lihat, suami barunya Bu Dina kok tampangnya serem banget ya?”

Teti : “Iya juga yah Jeng! Tampangnya emang serem banget! Gimana sih Bu Dina itu, milih suami ke empat kok yang serem seperti maling!”

Mila : “Ya bener! Eh iyah jeng, ngomong – ngomong soal serem, dua orang itu tuh tampangnya serem banget yah?”

Teti : “Hah? Yang mana jeng?”

Mila : “Yang itu, tuh! 2 orang yang berjaket terus pake kacamata ituuu!”

Teti : “Oooh, yang itu! Iya ya serem banget!”

Mila : “Mbak, mbak, kok, 2 orang itu tampangnya serem banget, yah? Emangnya tampang – tampang orang yang nabung disini itu semuanya serem – serem seperti itu?”

Teller : “Wah, nggak kok bu! Saya juga baru lihat tampang mereka berdua! Mungkin mereka itu dari spesies terbaru kali bu!”

Mila : “Mungkin juga, yah!”

(Adegan ketiga)

Narator : “Tiba – tiba, kedua orang tersebut mengacungkan pistol.”

Perampok 1 : “Kalian semua, angkat tangan!”

Perampok 2 : “Hei kamu, angkat tangan!”

Teller : “Nggak mau ah!”

Perampok 2 : “Angkat tangan!”

Teller : “Nggak mau!”

Perampok 2 : “Kenapa?”

Teller : “Capek ah! Lagian kan itu pistol boongan!”

Perampok 2 : “Beneran tau!”

Teller : “Boongan!”

Perampok 2 : “Beneran!”

Teller : “Boongan!”

Perampok 1 : “BERISIK! Ujang, perampok itu nggak boleh berantem sama korbannya!”

Perampok 2 : “Habisnya dia nggak percaya sih!”

Teti : “Huh, dasar perampok amatir! Ngancem aja nggak bisa!”

Mila : “Iya, payah banget sih!”

Perampok 1 : “ Diam kalian! Ya sudah, biar aku yang tangani. Kamu angkat tangan sekarang!”

Teller : “Iii…yy…aaa!”

Perampok 1 : “Sekarang, masukin uang – uang yang ada disitu ke sini! Cepattt, nggak pake lama!”

Teller : “Wah wah, sorry aja nih, mas perampok, kayaknya saya nggak bisa masukin uang itu, tuh!”

Perampok 1 : “Kenapa? Berani ngelawan, kamu?”

Teller : “Ya gimana bisa, tangan saya kan masih diangkat! Ya susah dong, buat ngemasukkin uangnya! Gimana sih?? Mikir dong!”

Perampok 1 : “Iya juga, yah?”

Teti : “Idiih, gimana sih, jadi rampok kok nggak becus banget!”

Mila : “Iya nih, kalau nggak bisa ngerampok mending jadi maling ayam aja deh!”

Teti : “Iya tuh, bener!”

Perampok 1 : “ DIAM! Ya sudah, turunkan tanganmu dan cepat masukkan uang itu! Protes lagi, saya tembak kalian!”

Teller : “Oke deh! Ini semua, pak?”

Perampok 1 : “Ya iyalah, semua!”

Perampok 2 : “Kalian, serahkan semua barang – barang kalian!”

Teti : “Apa?? Kayaknya nggak mungkin, deh!”

Perampok 2 : “Mungkin dong! Sudah cepat serahkan!!!”

Teti : “Ogah ah! Ini tuh semua penting, tahu!”

Perampok 2 : “Cepat serahkan, kalau kamu masih ingin selamat!”

Teti : “Ya udah deh, ini.”

Perampok 2 : “Ikhlas, nggak ini?”

Teti : “Ya nggaklah!”

Perampok 2 : “Ya udah deh, ini saya balikin.”

Teti : “Yang bener mau dibalikin?”

Perampok 2 : “Ya nggaklah! Emang saya bego apa?”

Teti : “Eeeh, kirain beneran!”

(Adegan keempat)

Narator : “Tiba – tiba, muncul seseorang yang tidak terduga.”

Polwan : “Angkat tangan, kalian perampok – perampok amatir!”

Perampok 1 : “Angkat tangan? Emangnya kamu siapa?”

Perampok 2 : “Iya nih! Seenaknya saja nyuruh – nyuruh angkat tangan!”

Polwan : “Saya ini…. Polwan berpakaian preman…”

Perampok 1 : “Yakin? Kok nggak meyakinkan, sih?”

Perampok 2 : “Iya nih! Apaan, Polwan kok kayak begitu?”

Narator : “Si perampok 1 kemudian menembakkan senjatanya ke arah polwan.”

Polwan : “Nggak kena tuh!”

Narator : “Giliran perampok 2 yang menembak.”

Polwan : “Nggak kena juga! Kalian berdua memang payah! Sekarang kalian harus menyerahkan diri! angkat tangan! Kalian berdua sudah dikepung! Menyerahlah!”

Perampok 1 : “Dikepung? Sama siapa?”

Polwan : “Loh, anak buah saya semua tuh ada diluar! Masa kalian nggak denger sirene polisi, sih? Jadi, sekarang kalian menyerah saja deh! Sebelum benar – benar harus diserbu sama anak buah saya!”

Perampok 2 : “Huhuhu, ampun mbak polwan, saya nggak salah….!”

Polwan : “Nggak salah, nggak salah! Kalian ini kan yang kemarin maling ayam sama nyuri sepeda, kan? Kurang puas kalian, hah?”

Perampok 1 : “Itu bukan kami, kok!”

Polwan : “Alaah! Ceritakan alibi kalian di kantor polisi nanti! Sekarang, ikut saya!”

Narator : “Polwan yang ternyata perkasa itu kemudian menangkap kedua perampok itu! Kedua perampok amatir itu lalu masuk penjara.”

Narator : “Setelah itu…”

Teti : “Aduh, untung deh, saya nggak perlu menyerahkan barang – barang saya!”

Mila : “Iya ya jeng, untung banget!”

Polwan : “Kata siapa? Ibu harus menyerahkan semua barang – barang ibu karena semua itu adalah barang – barang curian!”

Teti : “Itu tidak mungkin!”

Polwan : “Yang penting, sekarang Ibu harus ikut memberi penjelasan akan semua barang – barang kepunyaan Ibu!”

Teti : “Tidaaak….”

Narator : “Jeng Teti pun akhirnya dibawa juga ke kantor polisi. Dan berakhir pula, kisah perampokan di Bank ini.”

Advertisements

3 thoughts on “Naskah Drama jaman SMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s