kajian pendidikan kewarganegaraan dan filsafat pancasila

Assalamualaikum wr. wb…

postingan kali ini akan membahas mengenai pendidikan kewarganegaraan dan pancasila. ini merupakan rangkuman bab 1 dan bab 2 dari buku kewarganegaraan yang diberikan kepada setiap mahasiswa baru unpad. cekidoot!

UU No.20 tahun 2003 memberikan rumusan tentang visi Indonesia 2020 berupa masyarakat yang berkeadaban yang hendak diwujudkan melalui pendidikan nasional yaitu

“ berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mutlak, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

Untuk mencapai visi Indonesia 2020, Pendidikan Tinggi Nasional Indonesia memiliki program jangka menengah yang disebut Visi Pendidikan Tinggi Nasioanl 2010 yaitu:

1. Mengembangkan kemampuan intelektual mahasiswa untuk menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab bagi kemampuan bersaing bangsa dalam mencapai kehidupan yang bermakna serta;

Membangun suatu sistem Pendidikan Tinggi yang berkontribusi dalam pembangunan masyarakat yang demokratis, berkeadaban dan inklusif, serta menjaga kasatuan persatuan nasional.

A. Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Kurikulum Pendidikan Tinggi

Pasal 37 ayat 2 UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa kurikulum Pendidikan Tinggi wajib memuat:

1. Pendidikan agama

2. Pendidikan kewarganegaraan

3. Bahasa

Sebelum peraturan pemerintah keluar, maka keputusan menteri Pendidikan nasioanl No.232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa dan No.045/U/ 2002 tentang kurikulum Inti Pendidikan Tinggi dinyatakan masih tetap berlaku. Menurut ketentuan ini, Pendidikan Kewarganegaraan termasuk dalam kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian.

Aktualisasi dari pendidikan Kewarganegaraan tersebut adalah melahirkan mahasisw sebagai ilmuan professional, sekaligus Warga Negara Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air (nasionalisme).

B. Materi Kajian Pendidikan Kewarganegaraan

Berdasarkan paradigma Pendidikan tinggi 2003-2010, kompetensi pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan tinggi dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Melahirkan warga negara yang memiliki wawasan berbangsa dan bernegara serta nasionalisme yang tinggi.

2. Melahirkan warga negara yang memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai HAM dan Demokrasi, serta berpikir kritis terhadap permasalahannya.

3. melahirkan warga negara yang mampu berpartisipasi dala upaya menghentikan budaya kekerasan, menyelesaikan konflik dalam masyarakat secara damai berdasarkan nilai-nilai pancasila dan nilai-nilai universal, serta menghormati supremasi hukum (rule of law/ rechstaat)

4. Melahirkan warga negara yang mampu memberikan kontribusi terhadap persoalan bangsa dan kebijakan publik

5. Melahirkan warga negara yang memiliki pemahaman internasioanl mengenai “ civil society”

Nasionalisme amatlah penting kalau bangsa kita mau bertahan. Tiga poin penting yang menjadi ciri khad nasionalisme para pendiri bangsa. Pertama, nasinalisme mereka adalah nasinalisme yang didasari oleh rasa sukarela dan tulus. Kedua nasionalisme mereka adalah nasionalisme yang berorientasi pada nilai. Bersatu bukanlah suatu tujuan melainkan sarana. Tujuan utama mereka amatlah luhur yaitu keutamaan manusiawi. Ketiga nasionalisme para nasionalis itu adalah nasionalisme yang dewasa. Manifestasi dari ciri ini adalah sikap mereka yang tidak meremehkan harkat dan martabat bangsa lain.

Karakter nasionalisme seperti itu sudah terbukti dapat mempertahankan eksistensi bangsa Indonesia walau ditekan oleh kekuatan asing, menjadi dasar semangat bangsa Indonesia dalam berjuang dan bahkan bisa mengantarkan bangsa Indonesia mencapai cita-citanya, yaitu kemerdekaan.

Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo mengungkapkan “ Tidak perlu disangsikan lagi bahwa pengajaran sejarah memiliki tujuan menanamkan kesadaran nasional. Kesadaran nasional akan tumbuh melalui perkembangan politik nasional dengan gerakan-gerakan partai-partai politik yang mempunyai tujuan nasional; memupuk patriotism dengan lambing-lambang nasional, seperti bendera, lagu kebangsaan , mata uang dan sebagainya.

Refleksi Nasionalisme

Generasi muda pada umumnya sudah mulai anti terhadap nasionalisme. Salah satu usaha dalam rangka itu adalah maraknya pendapat-pendapat bahwa sosialisasi nasionalisme melalui Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Pancasila harus ditiadakan. Padahal sikap batin yang telah terwujud itu merupakan suatu refleksi dan rangkuman pengalaman historis Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan dan pancasila hingga kini masih sebatas hafalan, dan belum tercermin dalam kehidupan nyata. Tampak jelas pemahaman pancasila hanya sebatas kuliahnya saja, tidak mendalam. Selanjutnya karena P4 telah ditiadakan, tampaknya PPKN dapat menjadi solusi yang tepat.

Karenanya perlu diperhatikan bahwa pengajaran PPKN harus actual, fleksibel, dinamis,kontekstual dan lebih mengutamakan metode dialog dan diskusi daripada ceramah. Bersifat actual artinya nyata dalam kehidupan sehari-hari , bukan suatu pengandaian. Bersifat fleksibel artinya tidak terlalu tegang dan terikat pada buku paket, bisa dari Koran atau sumber referensial yang lain. Bersifat dinamis, artinya sesuai dengan perkembangan jaman. Bersifat kontekstual artinya sesuai dengan konteks lingkungan dan sistem sosial yang ada.

BAB II

A. filsafat pancasila

1. pengertian filsafat

bangsa Indonesia mengenal kata filsafat dari bahasa arab falsafah secara etimologis kata filsafat berasal dari bahasa yunani philosophia dan philosopos. Philod/philein (sahabat/cinta) dan Sophia/sophos (pengetahuan yang bijaksana / hikmah kebijaksanaan). Bertens, 2006

Menurut burhanudin salam (1983),filsafat adalah sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan sebagai hasil daripada berpikir secara radikal, sistematis, dan universal

Gunawan setiardja (2002)mengemukakan filsafat adalah ilmu pengetahuan mengenai segala sesuatu dengan meninjau sebab2 yg terdalam dengan kekuatan diri manusia itu sendiri.

2. landasan filsafat pancasila

Filsafat pancasila merupakan renungan jiwa yang dalam berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan pengalaman yang luas yang dirumuskan secara cermat dan seksama dalam hiarkhis yang harmonis sebagai suatu kesatuan yang bulat dan utuh.

1. landasan etimologis

Secara etimologis pancasila berasal dari bahasa sansakerta yang ditulis dalam dewanagari. Makna dari pancaila ada dua, pertama panca artinya lima dan syila (i pendek) artinya batu sendi jadi pancasila berarti berbatu sendi yang lima. Kedua panca artinya lima syiila (huruf I panjang) perbuatan yang senonoh atau normative. Pancasyiila berarti 5 perbuatan yang senonoh atau normative perilaku yang sesuai dengan norma kesusilaan

2.Landasan historis

Secara historis, pancasila dikenal secara tertulis oleh Bangsa Indonesia sejak abad ke-14. Pada zaman Majapahit, yang tertulis pada dua buku, yaitu Sutasoma dan Negarakertagama.

- Buku Sutasoma yang ditulis oleh Empu Tantular tercantum dalam Pancasyilla Krama yang merupakan 5 pedoman, yaitu:

a) tidak melakukan kekerasan

b)tidak boleh mencuri

c)tidak boleh dengki

d)tidak boleh berbohong

e)tidak boleh mabuk (minum minuman keras)

- Buku Negarakertagama ditulis oleh Empu Prapanca tercantum pada Sarga 53. Bait kedua sebagai berikut :

“Yatnang Gegwani Pancasyilla Kertasangkara Bhiseka Karma”

- Selama berabad-abad Bangsa Indonesia tidak mendengar lagi kata Pancasila. Baru pada tanggal 1 Juni 1945, pada rapat BPUPKI I yang berlangsung mulai 29 Mei-1 Juni 1945, kata Pancasila digemakan kembali oleh Bung Karno untuk memenuhi permintaan ketua BPUPKI yaitu Dr. Rajiman Widyodiningrat mengenai dasar negara Indonesia Merdeka. Pancasila disampaikan Bung Karno sebagai berikut :

1) Kebangsaan Indonesia atau Nasionalisme

2) Internasionalisme atau perikemanusiaan

3) Mufakat atau demokrasi

4) Kesejahteraan sosial

5) Ketuhanan yang berkebudayaan

Pancasila menurut Bung karno dapat diperas menjadi trisila, yaitu sila pertama dan kedua menjadi sosio nasionalisme. Sila ketiga dan keempat menjadi sosio demokrasi dan ketuhanan. Trisila masih bisa diperas menjadi ekasila, yaitu gotong royong.

- Pancasila rumusan Bung karno dikaji anggota panitia lainnya dan dirumuskan kembali pada tanggal 22 Juni 1945 yang dikenal sebagai piagam Jakarta oleh Muhamad Yamin disebut Jakarta Charter. Sila-sila Pancasila dalam Piagam Jakarta :

1) Ketuhanan dengan kewajiban dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

2) Peri kemanusiaan yang adil dan beradab

3) Persatuan Indonesia

4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Piagam Jakarta ini dirumuskan oleh 9 orang.

Pada waktu diundangkan UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945, rumusan Pancasila berbeda dengan yang tercantum pada Piagam Jakarta. Rumusan tersebut menjadi sebagai berikut :

1) Ketuhanan Yang Maha Esa

2) Kemanusiaan yang adil dan beradab

3) Persatuan Indonesia

4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawartan perwakilan

5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Perubahan pemerintahan maupun bentuk negara, tetap mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Sifat konsistensi mempertahankan Pancasila mencerminkan kesadaran dari Bangsa Indonesia akan pentingnya Pancasila sebagai norma dasar bagi kokohnya NKRI.

3. Landasan Yuridis

Secara yuridis, butir-butir Pancasila tercantum pada :

1) Pembukaan UUD 1945 alinea keempat yang dijabarkan dalam pasal-pasal UUD 1945.

2) TAP MPR RI No.XVIII/MPR/1998 : Pancasila sebagai dasar negara harus konsisten dalam kehidupan bernegara.

3) TAP MPR RI No.IV/MPR/1999, Bangsa Indonesia tetap berlandaskan Pancasila.

4. Landasan Kultural

Pancasila yang bersumber dari nilai agama dan nilai budaya Bangsa Indonesia tercermin dari keyakinan akan kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa dan kehidupan budaya berbagai suku Bangsa Indonesia yang saat ini masih terpelihara, seperti : Setiap upacara selalu memohon perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, gotong royong, azas musyawarah mufakat.

3. FILSAFAT PANCASILA

Filsafat pancasila merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh yang

1) Sila-sila pancasila merupakan satu kesatuan organis

2) Sila-sila pancasila saling berindepensi dan saling mengkualifikasi dan

3) Sila-sila pancasila merupakan satu kesatuan yang majemuk tunggal

Esensi sila-sila pancasila menurut Notonagoro lebih jauh dikemukakan bahwa rumusan pancasila itu besifat mutlak, tetap dan tidak berubah

a) Ketuhanan sebagai unsur hakiki dari Tuhan mencakup pengertian keberadaan dari Tuhan YME sebagai sang Maha Pencipta dari segala sesuatu yang ada (Causaprima)

b) Kemanusiaan sebagai unsur hakiki dari manusia, mencakup pengertian beradaan manusia sebagai ciptaan Tuhan YME yang memiliki kodrat sebagai mahluk rohani dan jasmani. Bersiafat sebagai mahluk individu dan mahluk sosial yang mandiri yang bergantung pada Tuhan YME

c) Persatuan, merupakan unsur hakiki dari satu, mengandung arti keseluruhan yang utuh tak terbagi yang terpisah dari lainnya.

d) Kerakyatan, sebagai unsur hakiki dari rakyat mengandung pengertian kelompok manusia yang mendukung berdirinya negara.

e) Keadilan, sebagai unsur hakiki dari adil, memiliki pengertian penghormatan terhadap hak yang bersangkutan

4. Filsafat Pancasila Sebagai sumber Imajinasi

Filsafat bangsa merupakan landasan idiil bangsa tersebut menggapai cita-citanya sumber imajinasi yang mengilhami anak bangsa yang dalam meletakkan dasar membangun dalam berbagai aspek kehidupan

Filsafat pancasila telah memberikan inspirasi bagi bangsa Indonesia mengembangkan gagasan-gagasannya sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuninya

Ekonomi pancasila terdiri atas dua aliran, Aliran Yuridis Formal berdasarkan prinsip bahwa pembangunan ekonomi sudah seyogyanya pada kepentingan rakyat yaitu pertumbuhan dan pemerataan yang berlandaskan pada latar belakang jiwa pembukaan UUD 45 dan Pasal 33 UUD 45 serta sebagai pelengkap Pasal.23 ayat 1, Pasal 27 ayat 2, Pasal 34 UUD 45

Aliaran orientasi bertitik tolak dari pancasila sebagai ideology terbuka dan menghubungkan sila-sila pancasila dalam peri kehidupan perekonomian.

B. IDENTITAS NASIONAL

Setiap bangsa di dunia mempunyai lambang yang merupakan ciri-ciri dari bangsa tersebut. Lambang biasanya terkait dengan mitos, kepercayaan, dinamika, karakter bangsa dalam menyongsong masa depan dan semangat juang serta cita-citanya.

1. Garuda pancasila

Garuda pancasila menunjukkan jiwa yang dinamis dan optimis. Lambang garuda pancasila terdiri atas tiga bagian:

a. Burung garuda yang berdiri tegak mengembangkan sayapnya kekiri dan kekanan, kepala menoleh tegak ke kanan bermakna:

- Garuda diambil dari peradaban Indonesia. Melambangkan kekuatan ,kekuasaan, kesetiaan, perjuangan.

- garuda menoleh kekanan melambangkan kebaikan, optimis,langkah mujur.

- Sayap masing-masing berjumlah 17 helai. Berarti tanggal 17. Bulu ekor berjumlah 8 berarti bulan agustus.Bulu sisik pada bagian berutu berjumlah 19 dan dileher berjumlah 45 berati tahun 1945.

b. Perisai berbentuk jantung, tergantung dengan rantai paada leher garuda. Perisai terbagi dalam lima ruangan . tiap-tiap ruangan terlukis lambing sila-sila pancasila. Bermakna:

- Perisai melambangkan perlindungan

- Garis melintang ditengah perisai melukiskan garis khatulistiwa

- lima lukisan(nurcahya,rantai bermata bulat dan persegi,pohon beringin, kepala benteng dan padi dan kapas) didalam perisai melambangkan sila pancasila

c. seloka/ semboyan tertulis pada pita yang dicengkram garuda berbunyi bhineka tunggal ika. Bermakna:

- seloka dipetik dari buku sutasoma yang ditulis oleh mpu Tantular dikerajaan Majapahit. Secara harafiah berarti beda itu, satu itu. Bhineka berasal dari bahasa sansekerta dari bhina yang berarti beda, ika berarti itu. Tunggal ika berarti satu itu.

2) Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu riau yang dijadikan pengantar berkomunikasi dikalangan pedagang dan kalangan intelektual bangsa Indonesia. Lahirnya Bahasa Indonesia berkaitan dengan sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Bahasa Indonesia merupakan salah satu puncak budaya yang diperkaya oleh bahasa daerah dan bahasa asing.

3) Bendera Sang Merah Putih

Warna merah putih sebagai bersatunya manusia dengan alam lebih jauh dikemukakan bila manusia terluka keluar darah bewarna merah, pohon yang terluka keluar getah bewarna putih. Bendera merah putih untuk berkibar di persada ibu pertiwi melalui perjuangan perjuangan bukan saja hanya pengorbanan harta, waktu dan tenaga akan tetapi disertai cucuran darah para syuhada dan air mata bangsa Indonesia.

1. Keterkaitan Globalisasi dengan Identitas Nasional.

a. Globalisasi

adanya era globalisasi dapat berpengaruh terdapat nilai budaya bangsa Indonesia. Nilai tersebut ada yang bersifat positif dan negative. Semua ini merupakan ancaman, tantangan dan peluang bagi bansa Indonesia unttuk berkreasi dan berinovasi dalam segala aspek kehidupan.

Didalam pergaulan antar bangsa, akan terjadi proses akulturasi, saling meniru, dan salaing mempengaruhi di anntara budaya masing-masing. Yang perlu dicermati dari proses akulturasi nilai tersebut biasanya ditandai oleh dua faktor yaitu ,

1. semakin menonjolnya sikap individualistis yaitu mengutamakan keperntingan pribadi di atas kepentingan umum.

2. semakin menonjolnya sikap materialistis yang berarti harkat dan martabat kemanusiaan hanya diukur dari hasil atau keberhasilan seseorang dalam emperoleh kekayaan

Untuk membendung arus globalisasi yang sangat deras tersebut harus diupayakan suatu kondisi atau konsepsi agar ketahanan nasional dapat terjaga. Yaitu dengan membangun suatu konsep nasionalisme kebangsaan yang mengarah pada konsep identitas nasional.

b.Keterkaitan Globalisasi dengan Identitas nasional

Dengan adanya globalisasi, intetitas hubungan masyarakat antara satu dengan negara lain menjadi semakin tinggi. Dengan demikian, kecenderungun munculnya kejahatan yang bersifat transnasional semakin sering terjadi. Jika hal tersebut tidak dapat dibendung, akan mengganggu terhadap ketahanan nasional disegala aspek kehidupan. Bahkan akan menyebabkan lunturnya nilai-nilai identitas nasional

2. Keterkaitan intergrasi nasional Indonesia dan identitas nasional

Masalah intergrasi di Indonseia sangat kompleks dan multidimensional. Untuk mewujudkannya dibutuhkan keadilan.dalam kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah dengan tidak membedakan ras,suku,agama, bahasa dan sebagainya. Sebenarnya upaya membangun keadilan, kesatuan, dan persatuan bangsa merupakan bagian dari upaya membangun dan membina stabilitas politik. Disamping itu, upaya lainnya dapat dilakukan, seperti banyaknya keterlibatan pemerintah dalam menentukan komposisi dan mekanisme parlemen.

3. Paham Nasionalisme Kebangsaan

a. Paham Nasionalisme Kebangsaan

Dalam perkembangan peradaban manusia, interaksi sesama manusia berubah menjadi bentuk yang lebih kompleks dan rumit hal ini dimulai dari kesadaran untuk menetukan nasib sendiri . Dikalangan bangsa-bangsa yang tertindas kolonialisme, seperti Indonesia salah satunya, lahir semangat untuk mandiri dan bebas untuk menentukan masa depannya sendiri. Secara garis besar terdapat 3 pemikiran besar tentang nasionalisme di Indonesia yang terjadi pada masa sebelum kemerdekaan yaitu paham keislaman, marxisme dan nasionalisme di Indonesia .

b. Paham Nasionalisme Kebangsaan sebagai paham yang mengantarkan pada konsep identitas Nasional

Paham Nasionalisme terbukti sangat efektif sebagai alat perjuangan bersama merebut kemedekaan dari cengkraman kolonial . Semangat Nasionnalisme dipakai sebagai metode perlawanan, sebagaimana yang disampaikan oleh Larry Diamond dan Marc F Platner bahwa para penganut nasionalisme dunia ketiga secara khas menggunakan pretorika anti kolonialisme dan anti imperialisme . Dengan demikian , bangsa merupakan suatu wadah yang didalamnya terhimpun orang-orang yang mempunyai persamaan keyakinan yang mereka miliki . unsur persamaan itu dijadikan identitas politik berdasarkan geopolitik dan pemerintahan permanen (negara).

Negara merupakan bangsa yang memiliki bangunan politik . Menurut penganutnya paham nasionalisme yang disampaikan oleh Soekarno bukanlah nasionalisme yang berwatak sempit (chauvinisme) melainkan bersifat toleran dan tidak.

4. Revitalisasi Pancasila sebagai Pemberdayaan Identitas Nasional

a. Revitalisasi pancasila

Manifestasi identitas nasional pada gilirannya harus diarahkan pada pembinaan dan pengembangan moral . Moralatas pancasila dijadikan dasar dan arah untuk mengatasi krisis dan disintegrasi dalam sendi kehidupan . Moralitas pancasila akan menjadi tanpa makna dan hanya menhadi sebuah karikatur apabila tidak disertai dukungan suasan kehidupan bidang hukum secara kondusif . Artinya moralitas yang tidak didukung oleh kehidupan hukum yang kondusif akan menjadi subjektifitas yang saling berbenturan .

Dalam merevitalisasi pancasila sebagai manifestasi identitas nasional , penyelenggaraan MPK hendaknya dikaitkan dengan wawasan :

1) Spiritual, untuk meletakkan landasan etik, moral,religious, sebagai dasar dan arah pengembangan suatu profesi .

2) Akademis, untuk menunjukkan aspek being yang tidak kalah pentingnya bahkan lebih penting daripada aspek having dalam kerangka penyiapan SDM yang bukan sekedar instrument melainkan sebagai sumber pembaharuan dan pencerahan

3) Kebangsaan, untuk menumbuhkan kesadaran nasionalismenya agar dalam pergaulan antarbangsa tetap setia pada kepentingan bangsanya, serta bangga dan respek pada jati diri bangsanya yang memiliki ideology tersendiri serta

4)Mondial, untuk menyadarkan bahwa manusia dan bangsa di masa kini siap menghadapi dialektika perkembangan dalam masyarakat dunia yang “terbuka”.

b. Aktualisasi Pancasila

1) Bidang politik, hukum dan hankam

Esensi pikiran-pikiran di bidang ini merumus pada aktualisasi Pancasila dalam wujud sebagai penyemangat persatuan dan kesadaran nasional( nasionalisme); yang harus dihayati dan diamalkan oleh penyelenggara negara, lembaga negara, lembaga masyarakat dan warga negara;tolak ukur eksistensi kelembagaan politik,sosial,ekonomi,dan sebagainya; referensi dasar bagi sistem dan proses pemerintahan; yang prinsip-prinsipnya terjewantahkan dalam tugas-tugas legislative, eksekutif dan Yudikatif.

Nilai dan roh demokrasi yang sesuai dengan visi pancasila adalah yang berhakikat: a) kebebasan terbagikan/terdesentralisasikan, kesederajatan, keterbukaan, menjunjung etika dan norma kehidupan, b) kebijakan politik atas dasar nilai-nilai dan prinsip-prinsip demokrasi, kontrol publik, pemilu berkala, serta c) supremasi hukum. Begitu pula standard demokrasinya yang a) bermekanisme “check and balances”, transparan,akuntabel b)berpihak kepada “social welfare”, serta yang c) meredam konflik dan runtuhnya NKR.

2) Bidang sosial ekonomi, kesejahteraan sosial, dan lingkungan hidup

Esensi pikiran-pikiran di bidang ini merumus pada aktualisasi pancasila dalam wujud sebagai nilai dan roh bagi ekonomi-kerakyatan atas prinsip kebersamaan, keadilan dan kemandirian; sistem ekonomi pancasila yang menekankan pada harmoni mekanisme harga dan sosial (sistem ekonomi campuran), bukan pada mekanisme pasar; yang bersasaran ekonomi kerakyatan (agar rakyat bebas dari kemiskinan, keterbelakangan, penjajahan dan ketergantungan, rasa was-was dan rasa diperlakukan tidak adil; yang memosisikan pemerintah yang memiliki aset produksi dalam jumlah yang signifikan terutama dalam kegiatan ekonomi yang penting bagi negara dan yang menyangkut hidup orang banyak.

3)BIdang pendidikan, budaya dan keagamaan

Esensi pikiran-pikiran di bidang ini merumus pada aktualisasi pancasila dalam wujud sebagai landasan idiil bagi pembangunan pendidikan, budaya dan keagamaan di Indonesia yang menghilangkan penonjolan kesukuan, keturunan dan ras; ideology terbuka yang mendorong kreativitas dan inovativitas.

Di bidang budaya, aktualisasi pancasila berwujud sebagai pengkarakter sosial budaaya (keadaban) Indonesia yang mengandung nilai-nilai religi, kekeluargaan, kehidupan yang selaras-serasi-seimbang, serta kerakyatan; profil sosial budaya pancasila dalam kehidupan bangsa Indonesia yang gagasan, nilai, dan norma/ aturannya yang tanpa paksaan sebagai sesuatu warisan dari generasi ke generasi.

Dibidang keagamaan, aktualisasi ini berwujud sebagai ideology yang menerapkan prinsip agama apabila melaksanakan prinsip-prinsip tauhid, keadilan, kebebasan, musyawarah, persamaan, toleransi, amar makhruf dan nahi munkar, serta kritik intern.

4) Implementasi Aktualisasi Pancasila

Untuk mewujudkan esensi aktualisasi pancasila, symposium serta seminar dan lokakarya pancasila merekomendasikan model,pendekatan, metode, teknik, sasaran (subjek dan objek). Pendekatan untuk memahami, menghayati (internalisasi) dan menerapkannya yang ditawarkan oleh forum adalah pendekatan kemanusiaan melalui dialog budaya (tidak lagi semata-mata pendekatan formal kenegaraan).

Metodenya ditawarkan melalui pendidikan, yaitu budaya dialog (pemberdayaan yang menyatu dengan proses internalisasi), komunikasi, diskusi-interaktif, koordinasi, regulasi, dan keteladanan yang disertai dengan penerapan teknik-teknik reward and punishment, simulasi (bermain peran), dinamika kelompok, analisis kasus, dan seterusnya.

Contoh implementasi dengan model, pendekatan metode, teknik dan sasaran yang direkomendasikan dalam rangka aktualisasi pancasila adalah seperti dalam pemberian pengertian dan pemahaman kepada semua pihak tentang esensi pancasila yang sesuai karakteristik dan kearifan-lokal (keadaban) masyarakat setempat.

c. Pemberdayaan identitas nasional

Dalam rangka pemberdayaan identitas nasional, perlu ditempuh dengan melalui revitalisasi pancasila. Revitalisasi sebagai manifestasi identitas nasioanl mengandung makna bahwa pancasila harus diletakkan dalam keutuhannya dengan pembukaan, serta dieksplorasikan dimensi-dimensi yang melekat padanya, yang meliputi:

1)Realitas, dalam arti bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dikonsentrasikan sebagai cerminan kondisi objektif yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat kampus utamanya.

2) Idealitas, dalam ari bahwa idealism yang terkandung didalamnya bukanlah sekedar utopis tanpa makna, melainkan diobjektifitaskan sebagai “kata kerja” untuk membangkitkan gairah dan optimisme warga masyarakat agar melihat masa depan secara prospektif.

3) Fleksibilitas dalam arti pancasila bukanlah barang jadi yang sudah selesai dan “tertutup”, atau menjadi suatu yang sacral, melainkan terbuka bagi tafsir-tafsir baru untuk memenuhi kebutuhan jaman yang terus menerus berkembang. Dengan demikian, tanpa kehilangan nilai hakikinya, pancasila menjadi tetap actual, relevan serta fungsional sebagai tiang-tiang penyangga bagi kehidupan bangsa dan negara dengan jiwa dan semangat “ Bhineka Tunggal Ika” .

About these ads

2 thoughts on “kajian pendidikan kewarganegaraan dan filsafat pancasila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s